Sejarah perkembangan matematika versi
barat!
Di dunia ini banyak sekali sejarah dalam
kehidupan kita. Salah satunya sejarah dan ilmu matematika. sejarah dalam bidang matematika ini
juga meliputi banyak hal, misalnya saja sejarah perkembangan matematika di suatu
daerah, sampai dengan penemuan-penemuan dalam bidang matematika oleh
para ahli matematikawan dunia.
sejarah matematika ilmu matematika berkembang
sesuai dengan zamannya. Sebagai contoh, pada tahun 2000 SM sampai dengan 300 M,
telah muncul Ilmu Hitung, Geometri, dan Logika.
Pada 300 M sampai dengan 1400 M telah
berkembang teori bilangan, Geometri Analitik, Aljabar, dan Trigonometri. Serta sejarah matematika ilmu
sampai abad ke-20 yang melahirkan tentang Logikamatematika,Geometri non
Euclid, dan lain-lain.
matematika adalah studi
besaran, struktur, ruang, relasi, perubahan, dan beraneka topik pola, bentuk,
dan entitas. Para matematikawan mencari pola dan dimensi-dimensi kuantitatif
lainnya, berkenaan dengan bilangan, ruang, ilmu pengetahuan alam, komputer,
abstraksi imajiner, atau entitas-entitas lainnya.
Dalam pandangan formalis, ilmu matematika adalah
pemeriksaan aksioma yang menegaskan struktur abstrak menggunakan logika
simbolik dan notasi matematika; pandangan lain tergambar dalam
filsafat . Para matematikawan merumuskan konjektur dan kebenaran baru melalui
deduksi yang menyeluruh dari beberapa aksioma dan definisi yang dipilih dan
saling bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang apakah
objek-objek matematika hadir secara objektif di alam menurut
kemurnian logikanya, atau apakah objek-objek itu buatan manusia dan terpisah
dari kenyataan.
Seorang matematikawan Benjamin Peirce
menyebut ilmu matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan
simpulan-simpulan yang penting". Albert Einstein, di pihak lain,
menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk
kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak
merujuk kepada kenyataan."
Melalui penggunaan abstraksi dan penalaran
logika, ilmu matematika dikembangkan dari pencacahan,
penghitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematik terhadap bentuk dan gerak
objek-objek fisika.
Pengetahuan dan penggunaan matematika dasar
selalu menjadi sifat melekat dan bagian utuh dari kehidupan individual dan
kelompok. Pemurnian gagasan-gagasan dasar dapat diketahui di dalam
naskah-naskah matematika yang bermula di dunia Mesir kuno,
Mesopotamia, India, Cina, Yunani, dan Islam.
Argumentasi kaku pertama muncul di dalam matematika Yunani,
terutama di dalam buku Euclid, Unsur-Unsur. Pengembangan berlanjut di dalam
ledakan yang tidak menenteramkan hingga periode Renaisans pada abad ke-16,
ketika pembaharuan matematika berinteraksi dengan penemuan
ilmiah baru, mengarah pada percepatan penelitian yang menerus hingga saat ini.
Kini, ilmu matematika digunakan di
seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu
pengetahuan alam, rekayasa, medis, dan ilmu pengetahuan sosial seperti ekonomi,
dan psikologi.matematika terapan mengilhami dan membuat penggunaan
temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada
pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru.
Matematikawan juga bergulat di dalam matematika murni,
atau matematika untuk perkembanganmatematika itu
sendiri, tanpa adanya penerapan didalam pikiran, meskipun penerapan praktis
yang menjadi latar munculnya matematika murni ternyata
seringkali ditemukan terkemudian.
Secara umum, semakin kompleks suatu
gejala, semakin kompleks pula alat yang melalui berbagai perumusan (model
matematikanya) diharapkan mampu untuk mendapatkan atau sekadar mendekati
penyelesaian eksak seakurat-akuratnya.
Jadi, tingkat kesulitan suatu jenis atau
cabang ilmu matematika bukan disebabkan oleh jenis atau cabang matematika itu
sendiri, melainkan disebabkan oleh sulit dan kompleksnya gejala yang
penyelesaiannya diusahakan dicari atau didekati oleh perumusan (model
matematikanya) dengan menggunakan jenis atau cabang matematika tersebut.
Bagaimana dengan versi
islam di timur tengah?
Ajaran Islam mulai bersemi di wilayah Maghrib - Afrika
Utara - pada tahun 642 M. Setelah melalui berbagai ekspedisi penaklukan,
seluruh wilayah Maghrib yang meliputi Aljazair, Mesir, Libya, Maroko, Sudan,
Tunisia akhirnya berhasil dikuasai Islam pada awal abad ke-8 M. Sejak itulah,
di wilayah Maghrib mulai menggeliat aktivitas intelektualitas, salah satunya
adalah studi matematika.
Geliat studi matematika yang
berkembang di era keemasan Islam di Afrika Utara ternyata hingga kini masih
berlangsung. matematika menjadi salah satu ilmu yang digemari
masyarakat Afrika Utara. Saat ini, tercatat terdapat 2.000 doktor matematika yang
tersebar di Afrika Utara. Sedangkan di Selatan Sahara terdapat 1.000
matematikus bergelar doktor.
Ali Mostafa Mosharafa tercatat sebagai
matematikus Maghrib pertama yang meraih gelar doktor dari University of London
pada tahun 1923. Sebagai perbandingan, Indonesia hingga kini hanya memiliki 100
dokter matematika. Jumlah doktor matematika itu
dihitung mulai dari Dr Sam Ratulangi. Begitu banyaknya doktor matematika yang
terdapat di benua 'hitam' itu menunjukkan betapa masih kuatnya pengaruh geliat
studi di era keemasan Islam.
Lalu bagaimanakah studi matematika berkembang
pesat di daratan yang dulu termasyhur dengan sebutan Maghrib itu? Prof Ahmed
Djebbar seorang guru besar pada University of Sciences and Technologies Lille I
di Lille, Prancis dalam tulisannya berjudul Mathematics in the Medieval Maghrib
membagi perkembangan matematika di
era kejayaan Islam di Afrika Utara ke dalam empat periode.
Periode pertama adalah masa kelahiran dan perkembangan pertama matematika di
Maghrib yang berlangsung dari abad ke-9 M hingga 11 M. Periode kedua adalah perkembangan matematika pada
erat kekuasaan Kerajaan Almohad yang berlangsung dari abad ke-12 M hingga 13 M.
Periode ketiga adalah masa lahirnya teori-teori baru matematika di
Maghrib pada abad ke-14 M hingga 15 M. Sedangkan, periode keempat adalah perkembangan matematika di
Afrika Utara setelah abad ke-15 M.
Menurut Prof Djebbar, lahir dan
berkembangnya studi matematika di wilayah Maghrib sangat
dipengaruhi perkembangan keilmuan
di Andalusia. ''Secara ekonomi, politik dan budaya Spanyol Muslim dan Maghrib pada
abad pertengahan memiliki keterikatan dan kedekatan,'' papar ilmuwan yang
berkiprah di Laboratoire Paul Painlev, Prancis itu. Terlebih, Muslim Spanyol
dan Maghrib memiliki keterkaitan tradisi keilmuan.
Meski secara sosial dan budaya Spanyol Muslim dan Maghrib berbeda, namun keduanya direkatkan oleh akidah yang mereka anut yakni Islam. Sejarawan abad ke-11, Said Al-Andalus, memaparkan pada awal Islam masuk ke Spanyol, penduduk negeri itu sama sekali tak tertarik pada sebuah ilmu. Minat masyarakat Spanyol Muslim terhadap keilmuwan mulai tumbuh ketika Dinasti Umayyah berdiri secara independen di negeri Matador itu.
Meski secara sosial dan budaya Spanyol Muslim dan Maghrib berbeda, namun keduanya direkatkan oleh akidah yang mereka anut yakni Islam. Sejarawan abad ke-11, Said Al-Andalus, memaparkan pada awal Islam masuk ke Spanyol, penduduk negeri itu sama sekali tak tertarik pada sebuah ilmu. Minat masyarakat Spanyol Muslim terhadap keilmuwan mulai tumbuh ketika Dinasti Umayyah berdiri secara independen di negeri Matador itu.
Perkembangan dan ghirah
(semangat) keilmuwan di Spanyol Muslim itu perlahan namun pasti lalu merambat
ke wilayah Maghrib. Studi matematika mulai digandrungi
masyarakat Muslim di Afrika Utara sejak abad ke-9 M. Pusat studi matematika pertama
terdapat di Ifriqiyan atau lebih tepatnya lagi di Kairouan. Pada era itu geliat
studi matematika memang masih terbatas di wilayah itu.
Meski masih terbatas, di Maghrib telah
muncul matematikus terkemuka seperti Yahya Al-Kharraz dan muridnya Yahya
Al-Kanuni (829 M - 901 M). Yahya tercatat sebagai orang Maghrib yang pertama
kali menulis buku berjudul Hisba - membahas tentang aturan transaksi
perdagangan di pasar. Pada era itu, Maghrib juga memiliki seorang matematikus
kondang bernama Shuqrun Ibn Ali - ahli berhitung dan falak dalam ilmu waris.
Buku matematika yang
ditulis Shuqrun terbilang fenomenal. Sejarawan Ibnu Khair mengungkapkan buku
karya Shuqrun masih tetap dijadikan referensi pengajaran pada abad ke-12 M di
sekolah-sekolah yang tersebar di kota Bougie - metropolis ilmu pengetahuan
Maghrib Tengah. Sedangkan pada abad ke-9 M, matematikus yang terekam dalam sejarah hanya
satu orang, yakni Abu Sahl al-Qayrawani.
Abu Sahl tergolong matematikus perintis di
Maghrib. Dia berhasil menulis sebuah kitab yang bertajuk Kita-b fi `l-hisab
al-hindi (Buku berhitung India). Di era kekuasaan Dinasti Aghlabid (800 M - 910
M), Kairouan memainkan peranan penting dalam perkembangan matematika. Sejumlah ilmuwan dari
Timur hingga Ifriqiya berdatangan ke kota itu untuk mengembangkan aritmatika
dan geometri.
Sepanjang abad ke-9 M hingga 11 M, wilayah
Maghrib telah menjadi metropolis ilmu pengetahuan. Di era itu, perdagangan buku
berkembang pesat, pembiayaan proyek perbanyakan manuskrip mulai semarak, para
ilmuwan mulai menadapatkan gaji yang tinggi dan sekolah-sekolah mulai dibangun.
Hal itu merupakan salah satu pengaruh eratnya hubungan Kekhalifahan Abbasiyah
di Baghdad dengan Dinasti Aghlabid.
Dinasti Aghlabid ternyata meniru kebijakan
Kekhalifahan Abbasiyah dalam bidang ilmu pengetahuan. Di wilayah Maghrib pun
ternyata di buat lembaga ilmu pengetahuan yang juga diberi nama Bait
Al-Hikmahyang didirikan Sultan Ibrahim II (875 M - 902 M). Bait Al-Hikmah di
Baghdad berdiri lebih awal yakni ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid (786 M - 809
M) memimpin Dinasti Abbasiyah. Sejak itulah, studi matematika berkembang
di wilayah Maghrib.
Memasuki abad ke-10 M, geliat studi matematika di
Maghrib kurang terekam dalam sejarah. Saat itu, tercatat beberapa
matematikus seperti Al-Utaq Al-Ifriqi (wafat 955 M), Ya`qu-b Ibnu Killis (wafat
990 M) dan Al-Huwa-ri- (wafat 1023 M).sejarah kembali merekam
secara baik aktivitas matematika di Maghrib pada abad ke-11 M.
Ada sederet nama matematikus yang muncul pada era itu.
Ibn Abi ar-Rijal (wafat 1034-35 M)
tercatat sebagai salah seorang matematikus pada abad itu. Selain itu, juga ada
Abu As-Salt (wafat 1134 M). Matematikus lainnya yang mengembangkan matematika di
Maghrib adalah `Abd al-Mun`im al-Kindi- (wafat 1043-44 M), Ibnu `Atiya al-Katib
(wafat 1016 M). Mereka adalah matematikus yang mengembangkan geometri dan
Aritmatika. Begitulah studimatematika berkembang dengan pesat di
wilayah Maghrib alias Afrika Utara.
Dari Maghrib untuk matematika
Al-Qurashi
Nama lengkapnya Abu Al-Qasim Al-Qurashi. Dia adalah matematikus kelahiran Seville, Spanyol. Namun, dia mengabdikan separuh hidupnya di Bougie, Afrika Utara sebagai seorang matematikus. Di abad ke-12 - era keemasan Islam di wilayah Maghrib Al-Qurashi terkenal sebagai matematikus yang ahli di bidang Aljabar dan juga pakar ilmu waris.
Dari Maghrib untuk matematika
Al-Qurashi
Nama lengkapnya Abu Al-Qasim Al-Qurashi. Dia adalah matematikus kelahiran Seville, Spanyol. Namun, dia mengabdikan separuh hidupnya di Bougie, Afrika Utara sebagai seorang matematikus. Di abad ke-12 - era keemasan Islam di wilayah Maghrib Al-Qurashi terkenal sebagai matematikus yang ahli di bidang Aljabar dan juga pakar ilmu waris.
Jejak hidupnya tak banyak diketahui. Yang
jelas, Al-Qurashi meninggal di Bougie pada tahun 1184 M. Meski begitu,
kontribusinya dalam pengembangan Aljabar tertoreh dalam tinta emas sejarahperkembangan matematika di
Afrika Utara. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah komentarnya
atas buku yang ditulis matematikus Mesir terkemuka abad ke-10 M, Abu Kamil.
Buah pikir Al-Qurashi dalam Aljabar sangat
berpengaruh pada sejumlah matematikus di abad berikutnya, seperti Ibnu Zakariya
(wafat 1404 M). Pemikiran Al-Qurashi juga turut mempengaruhi matematikus Ibn
al-Banna- (wafat 1321 M) untuk menulis Kitab al-'us ul wa-`l-muqaddimat fi-`l-jabrI
[Buku dasar-dasar dan persiapan dalam Aljabar).
Al-Hassar
Shaykh Al-Jama'a ( Pemimpin Masyarakat). Itulah julukan yang diberikan masyarakat Muslim Afrika di era kejayaan kepada matematikus bernama Al-Hassar. Riwayat hidupnya memang tak terekam dalam sejarah. Yang jelas, dia adalah seorang ahli matematika yang mengabdikan dirinya di kota Sebta, Maghrib. Jejak hidupnya hanya terekam dalam dua kitab yang masih tersisa hingga kini.
Shaykh Al-Jama'a ( Pemimpin Masyarakat). Itulah julukan yang diberikan masyarakat Muslim Afrika di era kejayaan kepada matematikus bernama Al-Hassar. Riwayat hidupnya memang tak terekam dalam sejarah. Yang jelas, dia adalah seorang ahli matematika yang mengabdikan dirinya di kota Sebta, Maghrib. Jejak hidupnya hanya terekam dalam dua kitab yang masih tersisa hingga kini.
Pertama kali dia menulis kitab bertajuk
Kitab al-bayan wat-tadhkar. Kitab itu merupakan semacam buku pegangan tentang
penjumlahan angka-angka, operasi aritmatika terkait bilangan dan pecahan. Buku
ini begitu fenomenal, sehingga menempati peranan yang sangat penting dalam sejarahmatematika di
Afrika Utara. Buku matematika kedua yang ditulis Al-Hassar
berjudul Al-Kita-b al-kamil fi sina `at al-`adad (Buku lengkap tentang seni
ilmu berhitung). Buku ini adalah pengembangan dari kitab pertama yang telah
ditulisnya. Seperti halnya Al-Qurashi, buah pikir Al-Hassar juga begitu
berpengaruh terhadap matematikus lainnya di abad-abad berikutnya.
Ibnu Al-Yasamin
Setelah menimba ilmu matematika di Seville, Spanyol, Ibnu Al-Yasamin mengembangkan pengetahuannya di Maghrib. Matematikus terkemuka di Afrika Utara pada abad ke-12 M itu juga sempat mengambil studi di Marrakech alias Maroko - ibu kota Kerajaan Al-Mohad. Ibnu Al-Yasamin merupakan ilmuwan yang berkulit hitam.
Ia terkenal lewat Urjuza fi- l-jabr (Syair tentang Aljabar). Selain itu, dia juga sukses menulis dua puisi lainnya tentang matematika. Namun, ketimbang tiga puisi yang dihasilkannya, kitab Talqi-h al-afkar bi rushum huruf al-ghubr dinilai para ahli sejarah sebagai hasil karya Ibnu Al-Yasamin yang paling penting baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Kitab yang ditulis Ibnu Al-Yasamin itu tebalnya mencapai 200 halaman. Isinya mengupas tentang ilmu penjumlahan serta geometri. Hasil pemikirannya itu banyak mempengaruhi para ahli matematikaMuslim di abad ke-14 M dan 15 M, seperti Ibnu Qunfudh (wafat 1407 M) serta Al-Qalasadi- (wafat 1486 M).
Setelah menimba ilmu matematika di Seville, Spanyol, Ibnu Al-Yasamin mengembangkan pengetahuannya di Maghrib. Matematikus terkemuka di Afrika Utara pada abad ke-12 M itu juga sempat mengambil studi di Marrakech alias Maroko - ibu kota Kerajaan Al-Mohad. Ibnu Al-Yasamin merupakan ilmuwan yang berkulit hitam.
Ia terkenal lewat Urjuza fi- l-jabr (Syair tentang Aljabar). Selain itu, dia juga sukses menulis dua puisi lainnya tentang matematika. Namun, ketimbang tiga puisi yang dihasilkannya, kitab Talqi-h al-afkar bi rushum huruf al-ghubr dinilai para ahli sejarah sebagai hasil karya Ibnu Al-Yasamin yang paling penting baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Kitab yang ditulis Ibnu Al-Yasamin itu tebalnya mencapai 200 halaman. Isinya mengupas tentang ilmu penjumlahan serta geometri. Hasil pemikirannya itu banyak mempengaruhi para ahli matematikaMuslim di abad ke-14 M dan 15 M, seperti Ibnu Qunfudh (wafat 1407 M) serta Al-Qalasadi- (wafat 1486 M).
Ibnu Mun`im
Sejatinya Ahmad Ibnu Mun`im terlahir di Denia -
pantai barat Spanyol dekat Valencia. Namun, dia menghabiskan sebagian besar
hidupnya di Marrakech/ Maroko. Ibnu Mun'im dikenal sebagai spesialis terbaik
dalam Geometri dan Teori Ilmu Hitung. Ibnu Mun'im sebenarnya adalah seorang
dokter. Namun, dia lebih banyak mengisi waktunya dengan mengembangkan matematika.
Dalam bidang matematika,
Ibnu Mun`im telah berhasil mempublikasikan sederet hasil karyanya. Di antra
beragam masalah yang dikaji Ibnu Mun'im antara lain; geometri Euclid,
penjumlahan, teori ilmu hitung serta pembuatan segi empat besar. Salah satu
karyanya yang masih tetap survive hingga kini adalah Fiqh al-hisab (Ilmu
Penjumlahan). Uniknya, judul kitab yang ditulisnya tak mencerminkan keberagaman
dan kekayaan dari isi bukunya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar